KESEHATAN | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Minggu, 06 Januari 2013

RESIDU PESTISIDA PADA BUAH-BUAHAN DAN SAYUR-SAYURAN

Masyarakat modern suka mengonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan organik, salah satu alasan utamanya adalah karena kekhawatiran terhadap masalah residu pestisida.

Beberapa waktu yang lalu Departemen Kesehatan Kota Taipei melakukan uji petik terhadap kondisi residu pestisida pada sayur-sayuran dan buah-buahan segar. Kacang buncis terdeteksi mengandung residu pestisida fipronil sebesar 0.049 ppm, atau 49 kali di atas nilai ketentuan baku sebesar 0.001 ppm. Terhadap hal ini, tindakan Departemen Kesehatan Masyarakat adalah meminta pengusaha untuk menarik produk tersebut dari peredaran dan melarangnya untuk dijual, serta dikenakan denda.

Fipronil merupakan insektisida yang diizinkan penggunaannya pada tanaman padi, jagung, sayuran, mentimun, kacang merah, dan kategori tanaman lain, namun kadar toksisitasnya masih tetap signifikan. Oleh karena itu masyarakat diharapkan mengetahui informasi bagaimana cara mengurangi asupan residu pestisida sayuran yang mungkin masih tertinggal. Pada waktu membersihkan sayuran hendaknya membuang daun-daun yang paling luar, membersihkan dahulu tanah dengan air dan membuang bagian akar sayuran, direndam dalam air selama 10-20 menit, kemudian dibilas dengan air keran mengalir 2-3 kali. Tindakan-tindakan ini dapat membantu membuang residu pestisida yang tertinggal.

Untuk mengurangi residu pestisida, konsumen umumnya juga dapat menggunakan cara-cara seperti merebus, atau memilih sayur-sayuran dan buah-buahan sesuai musimnya. Ketika memasak sayuran sebaiknya tutup belanga dibuka. Hal ini akan membantu pelepasan pestisida karena terbawa uap. Namun hal-hal semacam ini hanya membantu menutupi kekurangan di sisi lain, dan kadang-kadang hanya sekedar menghibur diri saja. Hal yang paling penting adalah tidak membeli buah-buahan dan sayuran yang mengandung residu pestisida.

Pada dasarnya, untuk mengurangi pembelian buah-buahan dan sayur-sayuran yang mengandung residu pestisida, yang pertama perlu diperhatikan adalah memerhatikan musimnya. Pilih buah-buahan dan sayur-sayuran pada musimnya, karena serangan serangga pada tumbuhan yang ditanam sesuai musimnya agak ringan dan nutrisinya melimpah. Penggunaan bahan kimia untuk memertahankan kesegarannya pun agak sedikit. Pada sayur-sayuran dan buah-buahan yang ditanam bukan pada musimnya, perlu penggunaan pestisida dalam jumlah yang lebih besar untuk menghadapi serangga, seperti misalnya mengonsumsi lobak China dan sawi putih pada musim panas dapat mengandung pestisida lebih banyak.

Sayuran yang mahal belum tentu baik. Misalnya, ketika harga sayuran tiba-tiba naik tajam, untuk merespon permintaan pasar, mungkin petani sayuran akan memanennya lebih awal, sehingga kandungan residu pestisida akan lebih tinggi, dengan demikian sayuran mahal tidak selalu hal yang baik.

Petani akan menggunakan lebih banyak pestisida pada jenis sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak diserang serangga. Serangga yang menyerang tumbuhan famili cruciferae adalah serangga yang paling serius. Seperti sayuran sawi putih, daun lobak China, broccoli China, kembang kol, kubis China, brokoli dan sebagainya. Sayuran yang beraroma keras tidak terlalu mendapat serangan dari serangga sehingga memerlukan lebih sedikit pestisida. Misalnya jenis-jenis sayuran seperti seledri, seledri Eropa, kucai, lyceum (Goji berry atau wolfberry), bawang merah, bawang putih dan sejenisnya.

Beberapa sayuran yang kurang peminat juga tidak banyak menggunakan pestisida. Seperti bayam, sesawi, toge dan lain-lainnya. Penggunaan pestisida pada sayuran yang tumbuh dalam air sangat sedikit, seperti seledri air, bayam air dan lain-lain. Sayuran dan buah-buahan yang berasal dari akar lebih melegakan, seperti wortel, lobak, ubi jalar, kentang, namun demikian penanaman talas masih membutuhkan pestisida.

Penggunaan pestisida pada buah berbutir halus dan lembut akan lebih banyak, misalnya pada arbei dan buah ceri. Buah yang berasa lebih manis akan mendapat serangan serangga lebih banyak. Semakin halus butirannya, residu pestisida yang tertinggal ditengah-tengah buah akan semakin banyak. Buah-buahan yang berkulit tebal atau keras akan lebih aman, seperti pisang, kelapa, atau jeruk Bali.

Sayuran yang memiliki bekas gigitan serangga pastilah yang terbaik, meski tidak tampak bagus. Bisa dibayangkan, bila terdapat gigitan serangga tentu hanya sedikit residu pestisida. Teh yang digigit serangga nilainya juga tidak rendah.

Masih ada lagi cara yaitu menggunakan naluri diri sendiri, mencium aromanya. Jika buah-buahan dan sayuran memiliki bau yang aneh, seringkali merupakan bawaan residu pestisida, maka sebaiknya jangan dikonsumsi. [Erlina Goh / Jakarta]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA